WiFi Membuat Hidung berdarah ?

October 6th, 2008

Ada berita menarik di NST Malaysia :

http://www.nst.com.my/Current_News/NST/Monday/National/2367231/Article/index_html

Reaksinya …..

Mestinya tidak betul WiFi yang menyebabkan hidung berdarah, yang betul mungkin radio microwave yang dayanya biasanya besar dan frekwensinya tinggi (kemungkinan WiMAX-nya).

Daya Access Point WiFi maksimum hanya 10Watt, itupun kalau yang memasangnya “tidak tau aturan”, karena maksimal yang boleh dipasang di outdoor adalah 1Watt saja.

1Watt dalam jarak 20 meter sinyalnya sudah sangat lemah dan tidak akan sanggup membuat kepala puyeng dan hidung berdarah.

Aya …. aya …. wae …. nyak !

Bogor, 6 Oktober 2008

Layanan pas-pas-an dari Telkomsel

October 5th, 2008

Inti dari complain ini adalah jangan pernah terpikir untuk berhubungan dengan call centre atau Grapari Telkomsel, karena kita akan sangat stress menghadapi layanan yang pas-pas-an dan mengikuti prosedur.

Tanggal 9 Agustus 2008 sekitar jam 18.00, handphone saya hilang di Starbuck Sunway Pyramid, Malaysia, kemudian sekitar jam itu, saya melaporkan kehilangan kartu Telkomsel saya ke call centre Telkomsel di nomor 021-52919811. Harus mengantri kurang lebih 5 menit untuk berbicara dengan operator yang membantu saya untuk mem-blokir kartu Halo saya yang sudah saya miliki sejak 11 tahun.

Selama empat hari saya tidak dapat berbuat apa-apa, karena harus menyelesaikan pekerjaan di Malaysia dan baru berkesempatan balik ke Indonesia tanggal 13 Agustus 2008, dan itupun saya harus langsung ke Semarang. Saya mengambil penerbangan paling pagi ke Semarang, supaya punya waktu untuk antri dan menyelesaikan prosedur permohonan pembukaan blokir-nya.

Jam 08.30 saya sudah berada di Grapari Semarang di Jl. Pandanaran No.56, Semarang 50134, dilayani oleh Ela dan mengisi formulir yang sudah disediakan.

Dalam percakapannya, Ela menanyakan soal pembayaran kartu Halo saya, yang saya jawab bahwa kartu Halo saya dibayar melalui Citibank secara otomatis, jadi kalaupun mereka belum membayarnya, berarti saya tidak menyalahi aturan.

Akhirnya entah dengan perintah-perintah apa, Ela menyetujui untuk memberikan kartu baru dengan biaya Rp 10.000,- dan saya harus menunggu 1 x 24 jam untuk aktifasi kartu tersebut.

Saya memohon ke Ela untuk segera mengaktifkan kartunya dalam waktu singkat, karena pengalaman saya dengan operator lain, waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 3 – 5 jam saja. Ela menjawab dengan nada meragukan, akan mengusahakannya.

Saya kembali ke pekerjaan dan tetap memantau apakah handphone saya sudah aktif, karena sudah hari ke empat saya tidak bisa dihubungi oleh relasi-relasi saya dan saya khusus membeli handphone baru untuk me-restore seluruh address book yang jumlahnya sampai 4000+ alamat.

Sekitar 6 jam saya berusaha mengontak layanan 021-52919811 dan tidak pernah sempat berbicara dengan operatornya, karena semua sedang sibuk dan harus menunggu kelipatan 5 menit secara bersabar, karena setiap lima menit saya menunggu, sambungan otomatis diputus.

Saya menelpon kembali 021-52919811 tanggal 14 Agustus 2008 pagi dari pukul 06.42 sampai 6.49 yang diterima oleh Tiwi dan diberitahu bahwa saya masih harus menunggu 6 jam lagi, karena status kartu saya masih di blokir, saya sudah mulai naik pitam, tetapi selalu dijawab dengan prosedural dan menyebalkan, karena seluruh jawabannya menyudutkan kita sebagai pelanggan, supaya tetap bersabar menunggu dan jangan cerewet marah-marah.

Karena kesibukan saya di Semarang, saya tidak berusaha menghubungi call centre Telkomsel, sampai jam 18.54 saya berkesempatan menelpon call centre yang diterima oleh Nunu. Jawaban yang mengejutkan saya dapatkan dari Nunu, yaitu saya masih harus menunggu sampai jam 13.00 keesokan harinya (15 Agustus 2008), karena kartu saya masih di blokir.

Saya sudah sangat berang sekali dengan jawaban standar yang sopan tapi tanpa kepastian, sehingga saya meminta bicara dengan supervisornya. Nunu menolak untuk memberikan kontak dengan supervisornya, katanya, semua prosedur dia sudah lakukan dan saya harus menunggu sampai besok siangnya, tanpa dapat menjelaskan penyebabnya dan saya dianggap orang yang mesti menerima semuanya dengan segala kepasrahan.

Saya tetap ngotot untuk bicara dengan supervisornya, walaupun dengan dali sedang solat magrib dan saya tunggu sampai 42.08 menit untuk bicara dengan Dika supervisornya.

Dari Dika supervisor yang sedang bertugas sore itu, saya mendapat kepastian bahwa kartu saya di blokir di Semarang dan belum bisa dibuka karena Grapari Semarangnya sudah tutup dan tidak dapat melayani permintaan saya untuk membuka blokirnya.

Walaupun dengan berbagai cara, sepertinya Dika tidak bisa membantu saya kecuali dengan menunggu sekitar 18 jam lagi untuk mengaktifkan kartu Halo saya.

Dengan perasaan sangat kecewa dan bersumpah untuk segera saya menghentikan langganan kartu Halo, saya hanya pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Kartu Halo saya baru aktif lagi pada tanggal 15 Agustus 2008 jam 12:37:27, pada saat saya di SMS oleh entah siapa (entah melalui Dika atau Ela) dengan berita :

Bpk michael,kartu halo & flashnya sdh aktif.Apn yg dgunakan internet.Terimakasih.Telkomsel

Layanan buruk dan pas-pas-an ini juga saat saya ke Grapari Telkomsel di Gatot Subroto, dimana dua kali saya ke tempat itu untuk mengaktifkan Flash, keduanya harus mengantri lebih dari 100 nomor dengan bentangan waktu sekitar 60 – 120 menit.

Dengan jumlah pelanggan yang sudah sedemikian besar, dengan penghasilan yang paling besar di semua operator cellular, layanan darat dari Telkomsel SANGAT BURUK dan terkesan asal-asalan, bahkan terkesan semua pelanggan harus maklum dengan segala kesibukan dan masalah yang mereka hadapi mulai dari biro-crazy sampai sistem prosedur yang selalu menyulitkan pelanggan.

Hai DETIK !

October 5th, 2008

Jalan-jalan iseng ….. ketemu blog-nya DETIK yang menggunakan Wordpress …..

Diterima ajah tantangannya untuk nulis di DETIK, walaupunblog-nya sudah berceceran dimana-mana, dan semua sudah berusaha dikumpulkan di http://michael.sunggiardi.com

Anyway … welcome aboard yah …..

Opa Michael